Satu Sikap, Satu Suara: Belajar dari Mahkota Cenderawasih

- Penulis

Senin, 3 November 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Papua – Peristiwa pembakaran Mahkota Cenderawasih di Papua telah menjadi cermin bagi kita semua di Kementerian Kehutanan. Sebuah cermin yang memantulkan kenyataan pahit: bahwa di tengah semangat menegakkan hukum, kita masih bisa keliru membaca hati masyarakat. Namun dari kesalahan itu, muncul pelajaran besar yang tak ternilai — bahwa melindungi alam Indonesia bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal rasa.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah memberikan contoh nyata kepemimpinan berjiwa besar. Di hadapan publik, beliau menyampaikan permintaan maaf, bukan karena hukum salah, tapi karena kita harus berani mengakui ketika cara kita melukai nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Itulah sikap seorang pemimpin yang menuntun, bukan sekadar memerintah.

Baca Juga :  Jhony Banua Rouw: Usai PSU, Saatnya Bersatu

“Kita akan inventarisasi kembali hal-hal yang dianggap tabu atau sakral oleh masyarakat, agar penegakan hukum berjalan seiring dengan penghormatan budaya,” pesan Menhut dalam arahannya.

Seruan itu bukan hanya untuk didengar, tapi untuk ditanamkan.
Setiap pegawai kementerian, dari pusat hingga daerah, harus memahami bahwa konservasi sejati tidak cukup dengan pasal dan prosedur — ia memerlukan empati, komunikasi, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

Kita bukan hanya penjaga hutan dan satwa; kita adalah penjaga makna, penjaga hubungan antara manusia dan alamnya. Maka, setiap tindakan harus berakar pada semangat “Menjaga Alam, Menghormati Budaya.”

Baca Juga :  "Ketua Dewan Gereja Papua Minta Tokoh Adat dan Agama Jadi Teladan Damai"

Kementerian Kehutanan kini melangkah dengan semangat baru: semangat untuk belajar, mendengar, dan memperbaiki. Dari Papua kita belajar bahwa hukum tanpa kearifan adalah bising; tapi kearifan tanpa hukum adalah rapuh. Keduanya harus berpadu — dalam satu irama pengabdian kepada Indonesia.

Mari kita satukan langkah. Jadikan kasus Mahkota Cenderawasih sebagai cambuk untuk berbenah.
Tidak ada tugas kecil dalam pengabdian, tidak ada daerah yang jauh dalam semangat menjaga negeri.
Kita bekerja bukan hanya untuk laporan, tetapi untuk masa depan Indonesia yang lestari dan bermartabat.

Satu kementerian, satu suara, satu semangat:
Menegakkan hukum, menghormati adat, menjaga alam Indonesia.(rd)

Berita Terkait

Transparan dan Akuntabel, Seleksi Bintara Polri 2026 di Papua: 97 Peserta Ikuti CAT Psikologi Hari Terakhir
Satlantas Mamberamo Tengah Edukasi Pengendara, Pelanggaran Masih Ditemukan
Tokoh Agama Papua Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Tolak Provokasi Jelang 1 Mei
Ketua LMA Lanny Jaya Serukan Kedamaian dan Persatuan
Tokoh Adat dan Pemkot Jayapura Imbau Warga Hindari Anarkisme, Wali Kota Tekankan Pentingnya Jaga Kondusifitas
Tokoh Pemuda Papua Ajak Generasi Muda Pahami Sejarah dan Bangun Masa Depan
Dialog Polisi Menyapa di LPP RRI Jayapura Soroti Ancaman Radikalisme Anak di Era Digital
Polsek Jagebob Salurkan Bantuan Pupuk dan Dampingi Pemupukan Jagung di Kampung Mimi Baru 
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Transparan dan Akuntabel, Seleksi Bintara Polri 2026 di Papua: 97 Peserta Ikuti CAT Psikologi Hari Terakhir

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:14 WIB

Satlantas Mamberamo Tengah Edukasi Pengendara, Pelanggaran Masih Ditemukan

Kamis, 30 April 2026 - 21:55 WIB

Tokoh Agama Papua Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Tolak Provokasi Jelang 1 Mei

Kamis, 30 April 2026 - 21:39 WIB

Ketua LMA Lanny Jaya Serukan Kedamaian dan Persatuan

Kamis, 30 April 2026 - 21:30 WIB

Tokoh Pemuda Papua Ajak Generasi Muda Pahami Sejarah dan Bangun Masa Depan

Berita Terbaru

Daerah

Ketua LMA Lanny Jaya Serukan Kedamaian dan Persatuan

Kamis, 30 Apr 2026 - 21:39 WIB