Tokoh Muda Nabire Sebut Pernyataan Aibon Kogoya Keliru dan Provokatif Bagi Masyarakat OAP

- Penulis

Jumat, 13 Maret 2026 - 17:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nabire – Upaya memecah belah persatuan masyarakat adat melalui batasan geografis yang dilontarkan Panglima TPNPB-OPM Aibon Kogoya kini mendapat perlawanan sengit dari generasi muda Nabire, Papua Tengah.

Narasi yang mencoba memisahkan hak kelola alam antara warga pesisir dan pegunungan dianggap sebagai langkah mundur yang mengancam stabilitas harmoni sosial yang telah terjaga selama berabad-abad.

Tokoh Muda Kabupaten Nabire, Samuel Sauwyar, menyatakan keberatan atas pernyataan Aibon Kogoya.

Diketahui Aibon sebelumnya mengeluarkan peringatan keras yang melarang masyarakat pesisir masuk ke kawasan hutan untuk mencari emas maupun kayu gaharu.

Baca Juga :  Polda Papua Kembali Menyentuh Masyarakat di Pedalaman Melalui Operasi Rasaka Cartenz 2025

Ia menebar ancaman akan adanya konsekuensi buruk bagi warga pantai yang beraktivitas di hutan.

“Narasi Aibon Kogoya ini bersifat diskriminatif dan berpotensi merusak ikatan persaudaraan sesama Orang Asli Papua (OAP),” tegas Samuel, Kamis (12/3/2026).

Samuel menegaskan bahwa identitas Papua bersifat tunggal dan tidak boleh dipisahkan berdasarkan letak tempat tinggal.

Sejarah mencatat bahwa masyarakat pantai dan pegunungan telah hidup berdampingan secara harmonis sejak zaman nenek moyang.

Hubungan fungsional melalui sistem barter dan perdagangan tradisional membuktikan bahwa ketergantungan antarwilayah adat adalah kekuatan utama Papua.

Baca Juga :  Tokoh Gereja Pegunungan Bintang Ajak Jemaat Jaga Kedamaian di Oksibil

“Nah, nilai gotong royong inilah yang merupakan warisan leluhur yang harus dilindungi dari segala bentuk upaya polarisasi kelompok tertentu,” sebut Samuel.

Perbedaan mata pencaharian antara nelayan dan masyarakat hutan merupakan kekayaan budaya, bukan alasan untuk menciptakan sekat wilayah kekuasaan.

Larangan bagi warga pesisir untuk mengambil hasil hutan dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap hak asasi manusia dan hak ulayat yang inklusif.

Samuel mengingatkan bahwa setiap individu yang berpijak di tanah Papua memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kedamaian dan ketertiban.(rd)

Berita Terkait

Tokoh Pemuda Papua Pegunungan Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas dan Dukung Pembangunan Jelang 1 Mei
Tokoh Masyarakat Bibida Tekankan Makna Integrasi Papua dan Ajak Warga Jaga Kondusifitas Jelang 1 Mei
Yanto Wayam: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Isu dan Jaga Stabilitas Daerah
Tokoh Adat Pegunungan Bintang Ajak Masyarakat Tetap Tenang dan Percayakan Proses Hukum Pasca Penangkapan DPO KKB
Dewan Adat Sentani, Yakob Fiobetauw serukan bahwa 1 Mei Jangan Dijadikan untuk Mengganggu Kamtibmas
Cegah Korban Berulang, Kepala Suku Sinak Larang Keterlibatan Warga dengan KKB
Jhon Maurits Suebu selaku Tokoh Adat Sentani Ajak Masyarakat Tidak Terprovokasi Aksi 1 Mei yang Diklaim sebagai Hari Aneksasi
Kepala Suku Besar Puncak Tegaskan Larangan Segala Aksi Kekerasan dan Perusakan Fasilitas Umum
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 April 2026 - 21:06 WIB

Tokoh Pemuda Papua Pegunungan Ajak Masyarakat Jaga Kamtibmas dan Dukung Pembangunan Jelang 1 Mei

Selasa, 28 April 2026 - 20:38 WIB

Tokoh Masyarakat Bibida Tekankan Makna Integrasi Papua dan Ajak Warga Jaga Kondusifitas Jelang 1 Mei

Jumat, 24 April 2026 - 19:36 WIB

Yanto Wayam: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Isu dan Jaga Stabilitas Daerah

Jumat, 24 April 2026 - 10:20 WIB

Tokoh Adat Pegunungan Bintang Ajak Masyarakat Tetap Tenang dan Percayakan Proses Hukum Pasca Penangkapan DPO KKB

Kamis, 23 April 2026 - 21:13 WIB

Dewan Adat Sentani, Yakob Fiobetauw serukan bahwa 1 Mei Jangan Dijadikan untuk Mengganggu Kamtibmas

Berita Terbaru